Petikan lirik yang sangat ear catching ditelinga saya menguar terus, “so sally can’t wait, she knows it’s too late as we’re walking on by…“. Siapa yang tidak tahu lagu yang dibawakan Oasis, Don’t Look Back in Anger, ternyata berhasil dialunkan oleh Rslide, band yang menempati urutan kedua pada acara Hutan Indie #4 yang diselenggarakan oleh KMFisip UNS. Saya yang sedang duduk – duduk santai di pelataran Fakultas Pertanian, jadi tergoda ingin segera melebur ke tengah acara.

Harmoni Amourest, band pembuka pada acara ini juga sempat membawakan salah satu lagu hasil “recycle” dari Mocca. Ingatan saya melayang ke band indie ibukota, White Shoes and The Couples Company, mendengar karakteristik vokal dari vokalis Harmoni Amourest. Berat ala wanita, sangat menggoda!

Sebelum line up utama datang, Soloensis, band indie rock n roll asal solo, melengkapi genre musikalitas malam itu. Rock n roll. Karena selebihnya, line up yang memenuhi Hutan Indie #4 dirasa mengusung musik yang sederhana. Pagelaran musik kali ini terasa kaya.

Oh ya, sampai lupa.

From Litter To Glitter. Dari Sampah jadi Kilauan. Sampah yang berkilauan. Cukup kontras dengan apa yang saya lihat di pelataran Argo Budoyo Park, sampah yang berdimensi tiga, diolah jadi perkakas multiguna, yang bisa dilihat di lounge sebelah kanan setelah entry gate. Terobosan yang lucu dan kreatif. Pengaplikasian atap bambu rumbia, pencahayaan kuning dan ornamen – ornamen hasil daur ulang, juga mendukung suasana malam itu.

Taman argobudoyo malam itu penuh sesak. Apalagi ditambah dengan musik rakyat dari Silampukau yang memukau. Aaaaah, lagu pertamanya saja, Bola Raya disambut hangat, sing along penonton, mematikan ancaman utama dalam sebuah pertunjukkan: monoton. Walaupun saya mengharapkan misuh – misuh khas arek surabaya: cak cuk, Duo Eki dan Kharis terlihat kalem malam itu, mungkin  mereka ingin menonjolkan suasana syahdu.

Bagus kali ya, kalo setiap kota punya lagunya…” kata Eki malam itu, sebagai intermezzo untuk lagu identitas duo tersebut, Dolly. Hasil keresahan mereka atas Dolly, Juanda dan Surabaya. Entah, Silampukau selain memukau, juga berhasil merangkul penonton untuk lebih peka terhadap lingkungan. Tidak usah muluk – muluk, coba dari lingkungan sendiri saja dahulu.

Silampukau berlalu, Nosstress pun maju. Tak kalah dengan pendahulunya, Nosstress, trio indie folk asal Bali ini, menyuarakan keluh kesah dan perspektif kritis pulau dewata dengan kemasan musik. Indah. Kompak. Dan mengajak. Terlihat dari crowd penonton yang ikut bernyanyi ria dengan lagu – lagu yang dibawakan oleh Angga (vokalis, gitaris) Cok Bagus (kajon) dan Kupit (backing vokal, gitaris).

Dengan semangat tanpa menyurutkan suara bersahabat, Angga kerap mengajak penonton untuk sing along bersama. Apalagi di salah satu lagu yang paling menyendu malam itu, Pegang Tanganku, benar – benar membuat penonton mengayun dan melagu. Ah syahdu.

From Litter to Glitter. Dari sampah jadi kilauan. Dari sisa – sisa suatu proses keseluruhan dan dianggap sampah, tak diinginkan bahkan dibuang, Hutan Indie #4 berhasil menyuguhkan suatu karya dari bahan hasil proses daur ulang. Semoga kesuksesan Hutan Indie akan terus berulang!

https://i1.wp.com/fiestafm.fisip.uns.ac.id/wp-content/uploads/2016/05/CfMSp3DVIAAonrd.jpg?fit=600%2C411https://i1.wp.com/fiestafm.fisip.uns.ac.id/wp-content/uploads/2016/05/CfMSp3DVIAAonrd.jpg?resize=300%2C300Fiesta FMEventNews
Petikan lirik yang sangat ear catching ditelinga saya menguar terus, 'so sally can't wait, she knows it's too late as we're walking on by...'. Siapa yang tidak tahu lagu yang dibawakan Oasis, Don't Look Back in Anger, ternyata berhasil dialunkan oleh Rslide, band yang menempati urutan kedua pada acara...