Sinopsis Novel Ayah Karya Andrea Hirata..
===========================================
Betapa Sabari menyayangi Zorro. Ingin dia
memeluknya sepanjang waktu. Dia terpesona melihat
makhluk kecil yang sangat indah dan seluruh
kebaikan yang terpancar darinya.
Diciuminya anak itu dari kepala sampai ke jari-jemari
kakinya yang mungil. Kalau malam Sabari susah
susah tidur lantaran membayangkan bermacam
rencana yang akan dia lalui dengan anaknya jika
besar nanti.
Dia ingin mengajaknya melihat pawai 17 Agustus,
mengunjungi pasar malam, membelikannya mainan,
menggandengnya ke masjid, mengajarinya berpuasa
dan mengaji, dan memboncengnya naik sepeda saban
sore ke taman kota.

Judul: Ayah
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka
Terbit: Mei 2015
Tebal: 412 halaman + xx
Setelah lama tak kedengaran, Andrea Hirata muncul
lagi dengan novel barunya, Ayah . Dua minggu
sebelum buku ini resmi terbit tanggal 29 Mei, saya
sudah mendapatkannya duluan (jangan tanya dapat
dari mana). Saya langsung membacanya dan
tamat dalam 5 hari. Kalau saja saya lagi nggak
banyak kerjaan, mungkin satu-dua hari juga beres.
Awalnya saya agak takjub melihat buku ini: kover
depan dan beberapa halaman awal
dipenuhi endorsement dari berbagai media dan
penulis berbagai negara. Padahal novel ini bahkan
belum terbit di Indonesia (waktu saya baca)! Tapi
kemudian saya kecele. Semua puja-puji itu bukan
untuk Ayah , melainkan untuk Laskar
Pelangi … hehehe! Kesannya kok Ayah seperti
kurang percaya diri, sampai-sampai harus
menggunakan endorsement Laskar
Pelangi yang jumlahnya berjibun itu.
Di kover belakang pun tidak ada sinopsis Ayah .
Yang ada adalah biografi singkat penulisnya—ini pun juga
ada di kover dalam bagian depan. Padahal, tanpa semua
itu pun Andrea sudah punya pembacanya sendiri. Tapi
ya sudahlah …
Ayah masih menggunakan Belitong sebagai latar
cerita utama. Ceritanya tentang empat sahabat
bernama Sabari, Ukun, Tamat, dan Toharun.
Keempatnya bersekolah di sekolah yang sama.
Andrea membangun kisah dengan menceritakan
keseharian keempat sahabat itu dan latar belakang
keluarganya masing-masing.
Mirip dengan tokoh-tokoh di Laskar Pelangi,
masing-masing dari keempat sahabat tadi punya
karakter yang unik. Tak jarang mereka juga begitu
polos dan naif, namun kadang bisa cerdas juga.
Bagian ketika Andrea menceritakan masa sekolah
anak-anak ini hingga lulus mendapat porsi terbanyak
dalam buku. Menurut saya bagian ini cukup asyik.
Humornya sangat khas Andrea.
Sabari diceritakan jatuh cinta sejak SMP pada
seorang gadis bernama Lena. Walau gadis itu tak
pernah memedulikannya, Sabari tak pernah
menyerah. Ia kerap memajang kertas berisi puisinya
untuk Lena di majalah dinding sekolahnya. Sesekali,
gadis itu membalas, juga lewat mading.
Singkat cerita, ketika sudah dewasa pun, Sabari
tetap tak bisa melupakan Lena. Suatu hari, ia
mendengar kabar bahwa Lena hamil di luar nikah.
Saat itu Sabari bekerja di pabrik batako milik
Markoni, ayah Lena. Sabari pun mau saja ketika
diminta menikahi Lena, demi menyelamatkan nama
baik Markoni yang kurang akur dengan Lena itu.
Anak lelaki yang kemudian lahir dari rahim Lena itu
kemudian diberi nama Zorro oleh Sabari. Pasalnya,
bocah itu ketika diberi boneka Zorro tak mau
melepasnya. Sabari sangat menyayangi Zorro. Dia
ingin memeluknya sepanjang waktu, terpesona
melihat makhluk kecil yang sangat indah itu dan
seluruh kebaikan yang terpancar darinya.
Tiap malam, Sabari susah susah tidur lantaran
membayangkan bermacam rencana yang akan dia
lakukan bersama anaknya jika besar nanti. Dia ingin
mengajaknya melihat pawai 17 Agustus, mengunjungi
pasar malam, membelikannya mainan, menggandengnya
ke masjid, mengajarinya berpuasa dan mengaji, dan
memboncengnya naik sepeda saban sore ke taman
kota.
Dia juga Ikhlas ketika Lena bahkan tak mau tinggal
bersama mereka. Beberapa tahun kemudian Lena
malah minta cerai dan menikah lagi hingga tiga kali,
bahkan akhirnya mengambil Zorro dari Sabari. Pelan-
pelan, Sabari mulai tampak seperti orang gila dalam
penampilan dan tingkah laku. Dua sahabatnya, Ukun
dan Tamat, lama-lama tak tahan melihat Sabari
seperti itu, sehingga akhirnya mereka memutuskan
menjelajahi Sumatra demi menemukan Lena dan
Zorro dan membawa mereka kembali.
Berhubung biasanya orang tidak suka dikasih
spoiler saat baca resensi buku, saya juga
nggak akan memberitahu akhir kisahnya, dong. Bagi
saya, ending -nya agak mudah ditebak, soalnya
tokoh yang sering diceritakan di awal tidak muncul
lagi di tengah cerita, hingga akhirnya nongol di akhir
cerita, dengan nama yang berbeda.
Novel Ayah ini terbagi dalam bab-bab pendek,
sehingga pembaca bisa dengan enak mencicil baca. 🙂
Di beberapa halaman akhir juga disertakan informasi
soal buku-buku Andrea yang sudah dan akan terbit,
baik di Indonesia maupun terjemahan Laskar
Pelangi di negara-negara lain. Gila juga, ya …
Anyway , saya suka gaya tulisan Andrea yang
khas dan lugas. Novel kali ini juga tidak menggelar
glorifikasi soal kesuksesan studi di luar negeri. Para
tokohnya bahkan tetap kere dan tidak berpendidikan
tinggi hingga akhir cerita. Tapi kisah Sabari yang
sangat tulus mencintai anaknya (yang bukan
kandung), kesetiakawanan para sahabatnya, dan
humor rasa Melayunya menjadi magnet kuat dalam
Ayah . Walau ada beberapa bagian cerita yang
menurut saya nggak penting banget dan melebar ke
mana-mana, misalnya bagian tentang Australia itu …
hehehe!
Kesimpulan saya, ini novel bagus, kok.
Menyenangkan. Memang tidak istimewa sih (masih
bagus Padang Bulan , menurut saya), tapi
tetap bagus. Nikmat dibaca sambil menyeruput
segelas teh tarik hangat saat libur.

Sumber : https://referensibukubagus.wordpress.com/2015/06/01/sinopsis-dan-resensi-buku-baru-andrea-hirata-ayah/

Wuki WulandariTak Berkategori
Sinopsis Novel Ayah Karya Andrea Hirata.. =========================================== Betapa Sabari menyayangi Zorro. Ingin dia memeluknya sepanjang waktu. Dia terpesona melihat makhluk kecil yang sangat indah dan seluruh kebaikan yang terpancar darinya. Diciuminya anak itu dari kepala sampai ke jari-jemari kakinya yang mungil. Kalau malam Sabari susah susah tidur lantaran membayangkan bermacam rencana yang akan dia lalui dengan anaknya jika besar...