Nama Tawan alias Sutawan alias I Wayan Sumardana, warga Banjar Tauman, Desa Nyuhtebel, Manggis, Karangasem, mendadak terkenal se-antero Bali. Semua berawal dari rasa isengnya bikin robot pengganti tangan kirinya yang tak berfungsi.

Menemukan bengkel las listrik milik Wayan Sumardana alias Sutawan alias Tawan di pinggir jalan Raya Tauman, tidak begitu susah, meski tidak juga mudah. Cukup mengandalkan konsentrasi saat menatap jalan, bengkel las sederhana itu bisa ditemukan.

Bengkel las listrik yang bercampur dengan gudang barang bekas itu tepat berada di pinggir jalan menuju Desa Tenganan Pengringsingan, Manggis, Karangasem. Bengkel las yang lahannya merupakan hasil ngontrak itu sekaligus jadi tempat tinggalnya bersama sang istri Ni Nengah Sudiartini, 29, dan ketiga anaknya yang masih kecil-kecil.

“Iya, kami tidur di sini (di bengkel las),” ujar Sudiartini sambil menunjukkan tempat tidurnya yang hanya beralaskan kardus dikelilingi barang rongsokan.

Beberapa hari terakhir, sosok Wayan Sumardana memang menjadi bahan perbincangan. Banyak orang yang melabeli dirinya manusia robot karena berhasil menciptakan robot tangan yang bisa membantunya membuka usaha bengkel las.

Robot itu sebagai pengganti tangan kirinya, yang sama sekali tidak berfungsi. Tangan robot itu mulai berfungsi sejak sekitar empat bulan lalu.

Manusia Robot: Wayan Sumardana alias Tawan kemarin tengah mengerjakan pekerjaannya sebagai tukang las dengan robot tangan kiri bikinannya sendiri

Manusia Robot: Wayan Sumardana alias Tawan tengah mengerjakan pekerjaannya sebagai tukang las dengan robot tangan kiri bikinannya sendiri

Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Tawan mengisahkan ide pembuatan robot itu berawal dari kisah tragis hidupnya. Sekitar enam bulan lalu, pria berusia 31 tahun ini, mendapat cobaan berat. Dia tiba-tiba sakit. Perutnya mules, hingga berjam-jam di toilet, namun tak juga mendingan.  Bahkan, sampai lemas.

“Karena lemas, waktu itu saya langsung tertidur sekitar pukul 02.00 (pukul 14.00),” kata Sumardana mengawali cerita saat pertama kali dia membikin robot tangan. Saat bangun tidur,  dia kehilangan tangan kirinya. Benar-benar hilang. Karena memang sama sekali tidak kelihatan.

Bersama istri dan anak-anaknya, dia pun mencari tangan kirinya yang hilang itu. “Tidak sekadar mati rasa. Memang benar-benar hilang. Tangan kiri tidak ada. Seperti mimpi. Setelah beberapa jam dicari, tiba-tiba anak saya melihat tangan kirinya kembali ada. Tapi, mati rasa,” sambungnya.

Saat itu dia menduga mengalami struk ringan. Berharap tangannya bisa berfungsi normal, dia pun periksa ke RS Karangasem. Hasilnya, kondisinya dinyatakan baik-baik saja. “Dokter saja bilang aneh. Tensi saya tetap stabil. Tapi tangan tidak berfungsi. Saya mengira ini kena penyakit Bali,” tuturnya.

Kisah memilukan itu nyaris membuat dia dan keluarganya terpuruk. Bak jatuh tertimpa tangga, karyawan bengkel lasnya yang berjumlah enam orang meninggalkan dirinya satu per satu. Begitu juga delapan orang yang membantunya mengumpulkan rongsokan, satu per satu pergi, hanya menyisakan dua orang. Akibatnya, barang rongsokan dibiarkan menumpuk karena tidak ada tukang sortir.

Praktis, kondisi itu membuatnya semakin pusing tujuh keliling. Dia tidak bisa bekerja sendiri hanya dengan mengandalkan tangan kanan.

Apalagi, pekerjaan sebagai bengkel las dan pengepul barang rongsokan, lebih banyak menggunakan otot.

“Kalau hanya mengandalkan istri, juga tidak mungkin, kasihan dia,” imbuh pria lulusan Teknik Elektro SMK Rekayasa, Denpasar 2002 lalu, itu.

Pengalaman otak-atik elektonik membuat pria yang pernah mengabdi menjadi guru di SMK N 1 Manggis itu mempunyai inisiatif merancang robot agar bisa meneruskan usaha bengkel lasnya. Dia pun mulai sibuk berguru di internet, searching teknik menciptakan robot, hingga berusaha mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan.

Karena perasaan jengah, dan penuh kesabaran, dia berhasil mengikuti panduan dunia maya untuk bikin robot tangan. Uniknya, bahan-bahan yang digunakan sebagian besar barang-barang bekas. Alasannya pun sederhana, karena tidak punya uang, lagipula banyak barang bekas bisa dimanfaatkan. Sebelum sukses menciptakan robot seperti  yang digunakan sekarang, dia sudah hampir lima kali gagal. Sudah tiga unit komputer rusak akibat alat-alatnya dipreteli untuk melengkapi pembuatan robot itu.

“Alat yang baru, hanya dron seharga Rp 4 jutaan, berfungsi menyerap sinyal otak, terhubung dengan robot (ditempatkan di kepala). Sedangkan gear, stabilizer motor, dinamo hingga baterainya semuanya bekas. Saya gunakan dua baterai yang biasa digunakan diving itu. Itu bisa di-charge,” terang Sumardana yang penghasilan per bulannya sering tak sampai Rp 1 juta itu.

Meski robot buatannya mampu menghidupi keluarganya, dia menegaskan bahwa kemampuan robot itu masih jauh dari kata sempurna. Pasalnya, robot yang bekerja dikendalikan kemampuan otaknya itu sangat menguras tenaga dan pikiran. Dia jadi cepat lelah, dan kerja robot itu masih sangat lambat.

“Robot ini bisa bekerja karena dikendalikan dari otak. Pakai rumus. Misal, Alfa (A), Delta (D), Meta (M), Neta (N). Ada juga numerik. Misal, 0,1,2,3,4. Itu teknis cara kerjanya,” ungkap ayah dari ketiga anaknya, masing-masing Made Astro Bintang Putra, 11; Ketut Erlangga Putra, 6; dan Putu Titan Putra, 4.

Selain membuatnya cepat lelah, robot juga pantang disentuh orang lain, karena bisa kena strum. Termasuk dirinya. Pada awal menggunakan, dia biasa kena strum namun dengan tegangan rendah. Tak hanya itu, robot rakitannya juga bisa terhubung dengan mobil yang menggunakan alarm.

“Mobil alarm bisa berbunyi saat didekati.  Gambar TV bisa langsung gerimis. Robot ini juga tidak bisa digunakan orang lain, makanya saya bilang belum sempurna,” tegasnya.

Dia pun mempunyai keinginan untuk bisa membantu menciptakan robot untuk orang-orang yang senasib dengannya, tanpa dikenakan biaya. “

Kalau membantu merakit, saya oke-oke saya. Asalkan bahannya dari yang bersangkutan,” katanya terkekeh. Masalahnya yang kain, robot bikinannya hanya bisa mengangkat beban maksimal 100 kg. Tidak bisa lebih. “Tapi, karena berhubungan dengan otak dan bikin cepat lelah, sementara difungsikan untuk yang ringan-ringan saja dulu,” pungkasnya.

 

Sumber : www.jawapos.com

https://i1.wp.com/fiestafm.fisip.uns.ac.id/wp-content/uploads/2016/01/16138_34054_manusia-robot-1-595x334-1.jpg?fit=595%2C334https://i1.wp.com/fiestafm.fisip.uns.ac.id/wp-content/uploads/2016/01/16138_34054_manusia-robot-1-595x334-1.jpg?resize=300%2C300Siti Jauharoh K. SariFeature
Nama Tawan alias Sutawan alias I Wayan Sumardana, warga Banjar Tauman, Desa Nyuhtebel, Manggis, Karangasem, mendadak terkenal se-antero Bali. Semua berawal dari rasa isengnya bikin robot pengganti tangan kirinya yang tak berfungsi. Menemukan bengkel las listrik milik Wayan Sumardana alias Sutawan alias Tawan di pinggir jalan Raya Tauman, tidak begitu...